top of page

Mengunjungi Kampung Pengrajin Anyaman Bambu di Demak yang Tembus Ekspor


Demak - Di Kabupaten Demak terdapat sebuah kampung yang mayoritas merupakan pengrajin anyaman bambu. Kampung tersebut bernama Kampung di Dalasem, Desa Rejosari, Kecamatan Karangtengah, Demak.

Kerajian anyaman bambu dari warga Demak ini bahkan mampu menembus pasar luar negeri. Sejumlah negara Amerika hingga Afrika.


Perangkat Desa Rejosari, Junaidi mengatakan, saat ini ada sekitar 150 warga yang menjadi pengrajin anyaman bambu. Mereka membuat kreasi di rumahnya masing-masing.


"Iya, alhamdulillah memang banyak sekali di Rejosari. Ada 150 pengrajin lebih, soalnya setiap rumah itu pengrajin. Ya orang-orang tua," ujarnya kepada detikJateng, Jumat (28/7/2023).


Junaidi mengapresiasi warganya yang begitu kreatif dalam memanfaatkan bambu hingga memiliki daya jual hingga tembus pasar luar negeri.


"Ini warga yang punya kreasi, kreatif banget, untuk membuat kerajinan dari bambu, bahan bambu pring apus," ujar Junaidi.


Ia menyebut warga menekuni kerajinan dari bambu ini secara turun-temurun. Bahkan menurutnya kerajinan bambu di Dalasem sudah bertahan 100 tahun lebih.


"Sudah turun-temurun dari leluhur dulu, para nenek moyang kita, mungkin sudah hampir ratusan tahun. Kami sendiri mewawancarai mbahe yang usianya sudah 102 tahun, secara otomatis ada kalau ratusan tahun," tuturnya.


Junaidi mengungkapkan produk anyaman bambu warga tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal saja, tetapi juga pasar mancanegara. Seperti ke Amerika hingga beberapa negara di Afrika.


"Kemarin itu memang sudah internasional, sudah memenuhi pemasaran di wilayah negara asing, Amerika dan juga sampai mencakup daerah Afrika juga," ujarnya.


Beberapa jenis anyaman bambu yang diminati di pasar ekspor di antaranya saringan kacang ijo, hirik, wakul, tampah, dan lain-lain.


"Alhamdulillah warga juga merasa seneng banget, terutama pada pengrajin tersebut karena mereka juga begitu dapat pesanan dari luar, ekspor itu banyak warga yang pendapatannya lumayan. Jadi ada yang satu minggu itu dapat Rp 1,5 juta, Rp 2 juta seperti itu," imbuhnya.


Salah seorang pengrajin anyaman Bambu, Suharjo (66) mengaku sudah menekuni pekerjaannya sejak 20 tahun lalu. Hasil kerajinannya saat ini untuk memenuhi kebutuhan pasar pasar tradisional di Kabupaten Demak dan sekitarnya, bahkan ekspor ke Amerika.

Suharjo menyampaikan, untuk pasar ekspor ada beberapa perbedaan motif anyamannya. Setidaknya 44 jenis anyaman bambu untuk kebutuhan ekspor.


"Sepert Tobacco Basket, square tobacco basket set of 3, vin extra large, biscuit basket, storage basket, jovannah home biscuit basket, shaker ghatering basket, dan sebagainya," ungkapnya.


Ia menuturkan alur pesanan melalui gambar yang dikirim customer. Selanjutnya gambar tersebut akan dicetak dan didesain hingga dimulai pembuatan menggunakan bambu.


"Desain pesanan itu dikirim lewat hp, terus saya rangkai sendiri. Saya pernah bikin kayak yang tempat ikan, tapi oleh orang sana dibuat tempat hp, ditenteng di bandara gitu buat tempat hp saya lihat kiriman videonya," tuturnya.


Mochamad Saifudin - detikJateng

6 tampilan0 komentar

Comentários


bottom of page