top of page

Kerajinan Mebel Bambu di Lebak Mampu Tembus Pasar Ekspor


RANGKASBITUNG, BANPOS – Perajin mebel bambu di Kabupaten Lebak, Banten mulai kebanjiran order dan kini dinilai mampu menumbuhkan ekonomi masyarakat sehingga dapat mengatasi kemiskinan dan pengangguran di daerah itu.


“Kita sekarang kewalahan melayani permintaan konsumen dari berbagai daerah di Banten,DKI Jakarta dan Jawa Barat,” kata Abdurahman (50) seorang perajin mebel warga Kabupaten Lebak, Selasa (26/6/2023).


Perajin mebel bambu yang dilakukannya itu sudah berlangsung selama 15 tahun dan menyerap tenaga kerja lokal sebanyak lima orang. Produksi mebel bambu itu per unit terdiri dari dua kursi dan satu meja dengan harga Rp600 ribu ditempat, sedangkan biaya transportasi itu dibebankan ke konsumen.


Saat ini, kata dia, dirinya mampu memproduksi sekitar 20 unit/bulan, karena menggunakan peralatan manual. Pendapatan dari hasil produksi mebel bambu itu sebesar Rp12 juta dari 20 unit dengan harga Rp600 ribu/unit.


Produksi mebel itu, lanjut dia, kebanyakan dipesan oleh konsumen dari wilayah Banten, Bogor dan Jakarta. Bahkan, saat ini tengah mengerjakan pesanan dari “kota tua” Jakarta sebanyak 10 set.


“Kami menggeluti usaha ini dengan memanfaatkan bahan baku tanaman bambu itu,” kata dia.


Khaerul Pulungan, seorang perajin mebel warga Pasir Ona Rangkasbitung, Kabupaten Lebak mengatakan produksi mebel bambu menembus pasar ekspor sejak tahun 2015 dan kebanyakan ke negara-negara Eropa antara lain Inggris, Jerman, Italia, Belanda, Perancis dan Portugis.


Produksi mebel bambu yang dirintis sejak 1989 hingga sekarang masih eksis karena permintaan pasar ekspor cukup tinggi. Harga mebel dijual ekspor itu mulai Rp350 ribu hingga Rp2,5 juta per unit. Kerajinan mebel bambu diantaranya produksi kursi sofa, ranjang tidur, rak sepatu, buku-buku juga kursi panjang.


“Semua produksi itu menggunakan bahan baku bambu,” katanya menjelaskan.


Ia mengatakan, produksi mebel juga dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 100 orang warga setempat dan mampu mengatasi kemiskinan. Mereka para tenaga kerja itu mulai mengerjakan pemotongan bambu, pelembutan sampai pekerjaan tuntas. Namun, pembayaran upah kerja tersebut tergantung nilai borongan pekerjaan sehingga mereka setiap bulan bisa menghasilkan pendapatan di atas Rp2 juta per bulan.


“Kami terus meningkatkan kualitas agar produksi mebel itu bisa diterima pasar dunia,” katanya menjelaskan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Orok Sukmana mengatakan selama ini kerajinan industri kecil produksi mebel bambu berkembang dan bisa menyerap lapangan pekerjaan dan mampu mengatasi kemiskinan.


Pemerintah daerah mengapresiasi omzet kerajinan bambu di daerah ini hingga miliaran rupiah per tahun dari 1.503 unit usaha yang dikelola masyarakat.


“Kami cukup terbantu dengan tumbuhnya usaha kerajinan bambu sehingga dapat mengatasi kemiskinan dan pengangguran,” katanya.(ENK/ANT)

3 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua
bottom of page