top of page

KEIN Turun ke Jatim Cari Penyebab Anjloknya Ekspor Mebel


Surabaya – Ketua Kelompok Kerja Industri Padat Karya, komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Benny Soetrisno, menemui pelaku industri mebel di beberapa sentra di wilayah Jawa Timur (Jatim).

Pertemuan itu dilakukam setelah target ekspor produk mebel dan kerajinan secara nasional di tahun 2016 lalu anjlok 16 persen. Padahal target Presiden Joko Widodo harus mengalami peningkatan dari tahun 2015 lalu.

"Ternyata tidak mencapai target bahkan malah melorot hingga 16 persen. Karena itu kami ingin tahu seperti apa kondisi industri mebel di Jatim, terutama di Pasuruan dan Mojokerto," jelas Benny Sutrisno, Kamis (8/3/2017).

KEIN merupakan komite ekonomi bentukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan tiga tugas pokok. Pertama, memberikan kajian terhadap masalah ekonomi dan industri baik skala nasional, global maupun internasional

Kedua, menyampaikan saran terhadap hal-hal yang strategis dan menentukan kebijakan ekonomi industri nasional kepada Presiden Jokowi. Baik diminta, maupun tidak diminta. Dengan mekanismenya kabinet dan Seskab memberikan memo kepada presiden mengenai pelaporan tersebut.

Ketiga, KEIN ditugasi memberikan masukan kepada pemerintah. Masukan tersebut di luar hal-hal yang dikerjakan menteri dan kementerian lembaga. "Sementara terkait industri mebel yang ekspornya turun, kami ditugasi melihat, datang, dan melihat potensinya, segera membuat kajian, saran, dan masukan, agar penurunan ekspor mebel bisa diatasi dan tahun ini bisa tumbuh sesuai target," lanjut Benny.

Diakui Benny, dalam hasil kajian sementara, industri mebel di Jatim, yang memberi kontribusi lebih dari 60 persen pasar ekspor, memiliki potensi yang besar. Tapi ternyata ada regulasi yang tidak singkron antar Kementerian terkait.

Misalnya Kementerian Industri, Kementrian Perdagangan, Bea dan Cukai, Balai Karantina, hingga peraturan di daerah. Termasuk sisi kondusivitas terhadap kinerja industri terkait buruh, dan peraturan daerah yang terkait.

Mebel dan kerajinan merupakan salah satu industri padat karya yang harus diselamatkan bersama sektor padat karya lainnya, seperti alas kaki, kosmetik dan jamu, makanan minuman, dan lainnya.

Abdul Sobur, Wakil Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), menambahkan, menurunnya ekspor mebel Indonesia akibat dua hal. "Pertama, ada tiga industri besar mebel yang tahun 2016 lalu pindah dari Mojokerto dan Semarang, ke Vietnam. Kedua, hambatan ekspor dan produksi mebel akibat regulasi pemerintah yang mencapai 70 persen," jelas Abdul Sobur.

Tercatat ekspor mebel Indonesia tahun 2016 lalu mencapai 1.608 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Turun 16 persen dibanding tahun 2015 lalu yang mencapai 1.900 miliar dolar AS. Sementara targetnya mencapai 2.000 miliar dolar AS. Bahkan mencapai 5.000 miliar dolar AS di tahun 2019.

"Karena itu kami menunjukkan kepada KEIN tentang potensi industri mebel di Jatim yang masih bisa tumbuh besar. Tapi mohon bantuannya agar regulasi pemerintah bisa mendukung kami dengan baik," ungkap Sobur.

Selain kunjungan ke pabrik, Benny juga bertemu dengan para pengusaha mebel yang tergabung dalam HIMKI DPD Jatim. Penasehat HIMKI Jatim, Soemarmo mengakui bila akibat regulasi pemerintah yang memghambat, ada perusahaan yang kehilangan order ekspor mebel hingga 100 box kontainer.

"Masalah itu adalah pengusaha tersebut tidak bisa membuka contoh produk dari AS yang datang karena belum dilengkapi sertifikat phytosanitary yang dipermasalahkan oleh Balai Karantina," jelas Soemarno.

Dengan tidak dapat dibukanya kiriman sampel barang tersebut, industri tidak bisa membuat penawaran, sehingga prospek ekapor itu menjadi hilang.

Nur Cahyudi, Ketua HIMKI Jatim, menambahkan, selain terkait sertifikat phytosanitary, juga ada regulasi lain yang cukup menghambat. "Terkait Surat Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) yang juga menghambat, terutama untuk produk yang sudah jadi," tambah Nur.

Atas pertemuan itu, KEIN siap mentargetkan sebelum semester II tahun 2017, sudah ada penyelesaian terkait dengan regulasi yang dianggap menghambat ekspor mebel dan kerajinan di tahun 2017. "Hal ini diharapkan bisa menaikkan kembali nilai ekpor mebel kita hingga sama dengan tahu 2015 lalu atau naik di 2.000 dolar AS," tandas Sobur. surya.co.id

7 tampilan0 komentar

Comentários


bottom of page