top of page

Forum Rotan Internasional Angkat Citra Produk Rotan Indonesia


Forum Rotan Internasional diharapkan mampu mengangkat citra produk rotan Indonesia sebagai produk ramah lingkungan yang memiliki nilai-nilai ekonomi, ekologi dan kultural.

Demikian disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat memberikan sambutan pada Forum Rotan Internasional yang digelar di Gedung Kemenperin, Jakarta pada 15 November 2015.

"Forum ini akan mensinergikan kegiatan pengembangan usaha rotan yang dilakukan oleh berbagai stakeholder guna mendorong kembali perkembangan industri rotan baik di hulu maupun hilir," ujar Airlangga di Jakarta.

Menurut data Kemenperin, sekitar 85 persen bahan baku rotan di seluruh dunia dihasilkan oleh Indonesia, sementara 15 persen lainnya dihasilkan oleh negara lain seperti Filipina, Vietnam dan negara Asia lainnya.

Adapun daerah penghasil rotan di Indonesia berada di Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera, Pulau Sulawesi dan Pulau Papua. Sementara sentra industri hilir rotan di Indonesia berada di Jawa Barat (Cirebon), Jawa Timur (Surabaya, Sidoarjo, Gresik), Jawa Tengah (Jepara, Kudus, Semarang, Sukoharjo), dan Yogyakarta.

Airlangga menyampaikan, potensi rotan Indonesia saat ini mencapai sekitar 622.000 ton per tahun, di mana terdapat 350 spesies rotan yang terdapat di Indonesia. "Pemerintah mendorong peningkatan daya saing industri melalui beberapa program hilirisasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian dan PP No.41 Tahun 2015 tentang Pembangunan Sumber Daya Industri," papar Airlangga.

Pada pasal 28 PP No.41 Tahun 2015 disebutkan bahwa dalam rangka peningkatan nilai tambah industri guna pendalaman dan penguatan struktur industri dalam negeri, pemerintah dapat melarang atau membatasi ekspor sumber daya alam.

Pelarangan ekspor bahan baku rotan diatur dalam Permendag No. 35 Tahun 2011 tentang Ketentuan Ekspor Rotan dan Produk Rotan, hal ini untuk mengubah persepsi dunia selama ini bahwa komoditi dan produk rotan adalah merupakan milik Tiongkok, tetapi sebenarnya rotan mayoritas berasal dari Indonesia. Untuk pengawasannya telah dikeluarkan Permendag No. 27 Tahun 2016 tentang Perdagangan Rotan Antar pulau.

Nilai ekspor produk rotan (furnitur dan anyaman) pada tahun 2013 mencapai 200 juta dollar AS, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 190 juta dollar AS.

Menurt Airlangga, akibat krisis ekonomi global, pada tahun 2014 dan 2015 mengalami penurunan ekspor yaitu masing-masing sebesar 173 juta dollar AS dan 159 juta dollar AS Untuk itu, Forum Rotan Internasional diharapkan dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran yang kreatif dan konstruktif guna mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh industri rotan nasional. "Diperlukan harmonisasi antara pelaku industri di hulu dengan pelaku industri di hilir dalam konteks penciptaan nilai tambah produk yang tinggi," ujar Airlangga.

Kementerian Perindustrian juga berkomitmen untuk mendorong peningkatan daya saing industri rotan nasional mulai dari sektor hulu sampai hilir. Upaya strategis yang akan dilakukan, antara lain melalui bantuan teknik dan akses pasar.

“Dua upaya tersebut akan kami programkan, sehingga penghasil dan pengrajin rotan kita dapat bangkit kembali dan skalanya bisa diperluas. Misalnya, mengenai desain dan inovasi rotan akan kami arahkan kepada tren pengguna global saat ini,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peresmian International Rattan Forum di Jakarta.

Menurut Airlangga, bantuan teknik bisa meliputi pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan serta pemberian mesin dan peralatan. Sedangkan, peningkatan akses pasar dapat melalui promosi ke negara-negara tujuan ekspor seperti keikutsertaan pada pameran tingkat internasional.

“Saat ini, industri rotan harus ditingkatkan profitnya. Tanpa keuntungan, tidak akan sustainable. Industri rotan harus punya untung cukup untuk menanam kembali dan promosi,” ungkapnya. Apalagi, sektor ini menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar rakyat Indonesia.

Lebih lanjut, Menperin mengimbau industri ini perlu didukung kegiatan penelitian dan pengembangan yang lebih kuat, terutama di bidang desain, teknik produksi, serta proses pengemasan dan penyelesaian produk. “Bidang-bidang itulah yang menjadi ujung tombak daya saing industri furniture nasional yang bersifat fashionable dan masuk kategori industri kreatif, dimana inovasi dan kreativitas menjadi kunci sukses,” tuturnya.

Oleh karena itu, Menperin juga meminta kepada Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) serta Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) yang menyelenggarakan forum rotan internasional diharapkan dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran yang kreatif dan konstruktif guna pengembangan industri rotan nasional ke depan. “Saya berharap mereka ini menjadi twin engine yang mendorong peningkatan daya saing industri rotan kita,” tegasnya.

Ketua Umum HIMKI, Ir. Soenoto mengatakan, industri mebel dan kerajinan rotan dalam negeri harus terintegrasi dari hulu sampai hilir. “Pemerintah telah membuat kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah. Selanjutnya perlu membangun model eco green dan promosi untuk memenangkan di pasar global,” tuturnya.

Menurut Soenoto, semakin luas penyebaran informasi mengenai industri rotan ramah lingkungan di Indonesia akan berkontribusi terhadap peningkatan kesadaran publik terhadap manfaat penggunaan produk-produk rotan dalam negeri dan akan juga berdampak terhadap peningkatan penjualan produk-produk rotan baik di pasar domestik maupun di pasar ekspor.

Ketua PUPUK Lendo Novo menyampaikan, pihaknya telah melakukan program Promoting Sustainable Production and Comsumption Eco-friendly Rattan Pruducts (Prospect) yang didanai Komisi Uni Eropa guna mendukung keberlangsungan rotan ramah lingkungan di Indonesia.

“Program ini sudah berjalan hampir empat tahun sejak 2013, yang diimplementasikan oleh PUPUK Bandung bekerja sama dengan Stichting Nederlandse Vrijwilligers (SNV) Belanda dan Innovation Zentrum Licthenfels (Jerman), dengan lokasi pengembangan di wilayah hulu seperti Katingan (Kalimantan Tengah), Sigi di Sulawesi Tengah, sekaligus Aceh Besar. Untuk wilayah hilir dilakukan di Cirebon, Surakarta dan Surabaya," paparnya.

3 tampilan0 komentar

Comments


bottom of page