Konsulat Jenderal RI di Ho Chi Minh City Tegaskan Dukungan bagi Promosi dan Perdagangan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia
- HIMKI Pusat
- 2 hari yang lalu
- 3 menit membaca

Ho Chi Minh City, 27 Agustus 2025 - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Ho Chi Minh City, Vietnam, menegaskan komitmennya untuk terus memberikan dukungan terhadap kegiatan promosi dan perdagangan industri Indonesia di pasar internasional. Dukungan ini sejalan dengan upaya memperkuat posisi Indonesia di sektor industri, khususnya mebel dan kerajinan, agar semakin dikenal luas di kawasan ASEAN dan dunia.
Pada Rabu (27/8/2025), delegasi Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) yang dipimpin oleh Marthunus Faisal melakukan kunjungan ke kantor KJRI Ho Chi Minh City. Kunjungan ini berlangsung sehari setelah delegasi menghadiri pembukaan pameran VIFA ASEAN 2025. Rombongan disambut langsung oleh Septania Rubi Prameswari, Consul of Economic Affairs I KJRI Ho Chi Minh City.
Dalam sambutannya, Septania menegaskan bahwa pemerintah Indonesia akan selalu siap mendukung kegiatan promosi dan perdagangan industri. Ia menambahkan, informasi terkait aktivitas promosi industri yang dilakukan oleh pelaku usaha Indonesia akan menjadi laporan berharga ke pemerintah pusat di Jakarta. Dengan demikian, pemerintah dapat menindaklanjuti potensi maupun peluang strategis yang muncul dari kegiatan internasional tersebut.
Pada kesempatan itu, Marthunus Faisal menyampaikan profil HIMKI secara komprehensif. Ia menjelaskan tentang kiprah HIMKI sebagai asosiasi yang menaungi industri mebel dan kerajinan Indonesia, serta berbagai upaya yang telah dilakukan dalam memperkuat branding produk di tingkat global. Tidak hanya itu, ia juga memperkenalkan pameran berskala internasional yang dimiliki HIMKI, yakni Indonesia International Furniture Expo (IFEX) dan IndoWood Expo.
Selain mengikuti pameran, delegasi HIMKI juga merencanakan sejumlah kunjungan ke asosiasi dan perusahaan industri sejenis di Vietnam. Program kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari perkembangan industri mebel dan kerajinan di Vietnam yang dinilai tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pengalaman dan pembelajaran dari Vietnam diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi pengembangan industri di tanah air.
Dalam dialog tersebut, Septania turut menjelaskan mengenai kebijakan Free Trade Agreement (FTA) yang dimiliki Vietnam. Ia menekankan bahwa jumlah FTA yang dimiliki Vietnam relatif lebih banyak dibandingkan Indonesia. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa FTA tidak serta merta menjamin peningkatan ekspor, karena dalam praktiknya perlu kajian mendalam agar tidak justru menimbulkan banjir produk impor yang berpotensi merugikan industri dalam negeri.
Penjelasan tersebut menjadi catatan penting bagi HIMKI, mengingat tantangan globalisasi dan keterbukaan pasar semakin kompleks. Indonesia perlu mengantisipasi dampak dari liberalisasi perdagangan agar tetap mampu menjaga daya saing produk lokal sekaligus memperluas pangsa pasar ekspor secara berkelanjutan.
Selain isu perdagangan, Septania juga menyampaikan tentang langkah strategis pemerintah Vietnam dalam menggabungkan beberapa provinsi, seperti Ho Chi Minh dan Binh Duong. Kebijakan ini dinilai mampu menciptakan efisiensi dalam prosedur maupun regulasi, sehingga berdampak positif terhadap iklim usaha. Penyederhanaan birokrasi menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung pertumbuhan pesat industri di Vietnam.
Lebih lanjut, Vietnam juga memainkan peran penting sebagai hub perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Posisi strategis negara tersebut menjadikannya sebagai pintu masuk bagi perdagangan menuju Myanmar, Kamboja, dan Laos. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk memanfaatkan Vietnam sebagai mitra strategis dalam memperluas akses pasar ke negara-negara sekitarnya.
Melalui pertemuan dengan KJRI Ho Chi Minh City, HIMKI mendapatkan berbagai informasi penting yang akan memperkaya wawasan dan strategi dalam mengembangkan industri mebel dan kerajinan Indonesia. Dukungan penuh dari KJRI diharapkan dapat memperkuat posisi HIMKI dan industri mebel dan kerajinan nasional di kancah internasional.
Pertemuan ini juga menjadi momentum penting bagi penguatan diplomasi ekonomi Indonesia. Dengan kolaborasi yang erat antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri, Indonesia optimis dapat meningkatkan daya saing produk sekaligus memperluas jaringan perdagangan di kawasan ASEAN maupunĀ pasarĀ global. MSJ
Komentar