top of page

Lebih Canggih, Vietnam dan Malaysia Jadi Saingan Baru Ekspor Mebel Indonesia


SOLO — Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menyebut Produk mebel Indonesia masih kalah dengan produk Vietnam dan Malaysia.


Kelemahan Indonesia yakni kalah saing dalam hal teknologi. Keunggulan Vietnam lainnya yakni adanya relokasi industri lebih dari 400 perusahaan dari China sejak 10 tahun yang lalu. Hal itu membuat pertumbuhan industri Vietnam menjadi lima kali Indonesia.


“Pasar paling besar Indonesia itu Eropa dan Amerika, saat ini sedang redup akibat Perang Rusia-Ukraina. Sementara kami sangat sulit untuk bisa masuk ke pasar China karena walaupun menjadi pasar terbesar produk mebel dan kerajinan dunia, mereka mengusahakan kebutuhan dalam negeri dipenuhi oleh pengusaha internal sehingga tidak memerlukan impor,” tambah Abdul saat ditemui Solopos.com dalam acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Hotel Grand Mercure Solo, Jumat (16/6/2023).


Abdul menambahkan, selain memiliki stok berlimpah, China saat ini menjadi pesaing besar dalam kancah ekspor mebel. Oleh sebab itu, melalui Rapimnas, para pengusaha mebel yang terhimpun dalam HIMKI mengupayakan langkah yang tepat agar industri mebel dan kerajinan tumbuh lagi.


Menurut Abdul, daya saing industri furnitur dan kerajinan Indonesia di pasar global terletak pada sumber bahan baku alami yang melimpah dan berkelanjutan, serta didukung oleh keragaman corak dan desain yang berciri khas lokal dan didukung oleh SDM yang kompeten.


Terpisah, pemilik usaha mebel di Sukoharjo CV Surya Rotan Furniture, Suryanto, mengatakan ekspor furnitur Indonesia memang masih di bawah Vietnam dan Malaysia.


“Memang begitu, nilai ekspor furnitur Indonesia masih di bawah kedua negara itu. Kondisinya juga sedang menurun sejak September 2022 lalu karena perang Rusia Ukraina,” papar Suryanto, Senin (19/6/2023).


Dia menyebut data ekspor mebel Soloraya year-on-year Desember 2022 dengan 2021 turun 30% sampai menyebabkan beberapa pengusaha terpaksa mengurangi tenaga kerja. Hal itu dikarenakan penghasilan tidak dapat menutup biaya produksi.


Suryanto menjelaskan beberapa upaya yang tengah mereka lakukan agar mebel Soloraya bertahan adalah dengan banyak mengembangkan barang-barang baru dan lebih aktif mengikuti pameran serta membuat penawaran kepada pembeli.


Saat ini pada kuartal pertama 2023 (Q1 2023) terjadi kenaikan ekspor tetapi di angka yang masih kecil yaitu hanya 5%. Suryanto berpendapat kenaikan ini belum begitu signifikan.

7 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua
bottom of page