Jaga Daya Saing di Tengah Tekanan Global, HIMKI Tekankan Pentingnya Kebijakan Terukur bagi Industri Hilir
- 7 hari yang lalu
- 2 menit membaca

JAKARTA, 15 April 2026 – Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur menekankan pentingnya kebijakan yang terukur untuk menjaga daya saing sektor furnitur dan kerajinan nasional di tengah tekanan kenaikan harga energi dan dinamika geopolitik global.
Dalam pernyataan yang sudah dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, ia menyampaikan, pihaknya tengah menghadapi kombinasi tantangan berupa kenaikan biaya energi, keterbatasan bahan baku, hambatan operasional, serta pengaturan likuiditas ekspor yang berpotensi memengaruhi kinerja sektor hilir, khususnya industri padat karya.
“Sektor hilir seperti furnitur dan kerajinan memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan biaya. Di sisi lain, ruang untuk menyesuaikan harga di pasar global sangat terbatas,” ujar Abdul Sobur.
Ia menambahkan, kelancaran pasokan bahan baku, serta fleksibilitas dalam pengelolaan arus kas menjadi faktor kunci dalam menjaga kesinambungan produksi.
Menurutnya kebijakan yang tepat dapat membantu meringankan tekanan terhadap sektor hilir yang berdampak terhadap nilai tambah serta devisa negara.
Lebih lanjut, HIMKI mendorong agar pendekatan kebijakan ke depan disusun secara lebih terukur dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing sektor industri.
Langkah ini dinilai penting agar industri hilir nasional, khususnya furnitur dan kerajinan, tetap mampu tumbuh, menjaga daya saing di pasar global, serta berkontribusi optimal terhadap perekonomian nasional.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan Indonesia menjadi hub produksi manufaktur furnitur global melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan serta peningkatan daya saing industri nasional.
Sektor ini juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari 736,21 miliar dolar AS.
Kemenperin menilai dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan
Kinerja sektor ini bahkan mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,30 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,11 persen.
Untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat sektor ini, Kemenperin menjalankan program restrukturisasi mesin/peralatan industri pengolahan kayu. Hingga saat ini program tersebut telah memfasilitasi 35 perusahaan dengan total nilai reimbursement mencapai Rp26,1 miliar.
Program tersebut terbukti meningkatkan efisiensi produksi sebesar 10,70 persen, mutu produk sebesar 36,28 persen, serta produktivitas hingga 32,65 persen.

























Komentar