Munas ke-4 di Bali: HIMKI Rumuskan Strategi Baru, Bidik Indonesia Jadi Pusat Mebel dan Kerajinan Dunia

DENPASAR, 14 September 2026 – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) merumuskan arah dan strategi baru pengembangan industri mebel dan kerajinan nasional di tengah disrupsi perdagangan global. Gagasan strategis ini menjadi agenda sentral dalam gelaran Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 HIMKI yang berlangsung di Denpasar, Bali, pada 14–16 September 2026.
Mengusung tema “Transformasi Bersama Menuju Indonesia sebagai Pusat Mebel dan Kerajinan Dunia”, forum tertinggi organisasi ini menjadi momentum refleksi, evaluasi capaian periode 2023–2026, serta penentuan garis haluan program kerja asosiasi untuk tiga tahun mendatang.
Abdul Sobur, menegaskan bahwa Indonesia memiliki modalitas fundamental yang luar biasa untuk tampil sebagai pemain utama dunia. Modalitas tersebut bertumpu pada melimpahnya bahan baku lestari, ketangkasan perajin (craftsmanship), kekayaan akar budaya, kapasitas desain modern, hingga basis sentra produksi yang kokoh di berbagai daerah.
Namun, Abdul Sobur menggarisbawahi bahwa modal alamiah tersebut tidak akan cukup tanpa dibarengi lompatan produktivitas, adopsi teknologi tepat guna, penguatan hak kekayaan intelektual desain, serta penciptaan nilai tambah tinggi.
“Indonesia tidak boleh lagi hanya dikenal sebagai pemasok bahan baku mentah atau produsen barang berbiaya murah. Kita harus naik kelas menjadi bangsa pencipta produk bernilai tambah tinggi, berkarakter otentik Indonesia, berkelanjutan, dan diperhitungkan secara kompetitif di pasar dunia,” tegas Abdul Sobur dalam keterangan resminya, Senin (14/9/2026).
Refleksi Tantangan Global dan Rekomendasi Kebijakan
Ketua Steering Committee (SC) Munas ke-4 HIMKI, A. Kuswidiarso, memaparkan bahwa dinamika lanskap usaha menuntut sektor mebel untuk beradaptasi secara adaptif. Berbagai variabel eksternal seperti ketegangan geopolitik, rekonfigurasi rantai pasok global, regulasi hijau (sustainability), perubahan perilaku konsumen internasional, hingga adopsi kecerdasan buatan dan otomatisasi perlu direspons dengan cetak biru yang presisi.
“Munas adalah ruang musyawarah tertinggi untuk menyusun garis-garis besar program kerja sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan strategis kepada pemerintah, agar ekosistem usaha mebel dan kerajinan nasional memiliki proteksi serta akselerasi yang seimbang,” ujar Kuswidiarso.
MUNAS Ke-4 HIMKI: Bali sebagai Titik Tolak Konsolidasi Nasional
Sementara itu, Ketua Organizing Committee (OC) Munas ke-4 HIMKI, Hani Duarsa, menyampaikan apresiasinya atas terpilihnya Bali sebagai tuan rumah musyawarah nasional ini. Infrastruktur MICE yang berkelas dunia di Bali menjadi representasi keterbukaan industri kreatif Indonesia dalam menyambut pasar internasional.
Selain merumuskan strategi makro, agenda Munas ke-4 HIMKI mencakup pembahasan laporan pertanggungjawaban kepengurusan periode 2023–2026, penyempurnaan tata kelola kelembagaan, serta regenerasi kepengurusan organisasi. Melalui konsolidasi ini, HIMKI mematok target agar industri mebel dan kerajinan Indonesia mampu merebut peran yang jauh lebih signifikan dalam rantai nilai (global value chain) dunia.























Komentar